Stimulus Merdeka Belajar Masa Pandemi

84 hit
Stimulus Merdeka Belajar Masa Pandemi

Oleh: Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas

PENANDATANGANAN dukungan Memorandum Of Understanding (MOU) pada 05 Maret 2020 di Convention Hall Universitas Andalas antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dengan Universitas Andalas menjadi pintu gerbang dalam meng-implementasikan kebijakan "Merdeka Belajar" atau yang disebut "Kampus Merdeka". Dalam paparan Plt. Dirjen Dikti Prof. Nizam saat itu, ada tujuh point yang dijelaskan bahwa mahasiswa diberi kebebasan memilih sewaktu meminta SKS pada kondisi belajar dilapangan. Mahasiswa bebas memilih sesuai minat dan passion yang berpotensi dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Tujuh point tersebut, mahasiswa membangun desa, mahasiswa mengajar, pertukaran mahasiswa, mahasiswa melakukan riset, mahasiswa melakukan wirausaha, mahasiswa melakukan program kemanusiaan, dan mahasiswa membuat project independent.

Dalam tujuh point tersebut mahasiswa dari awal semester telah diberi keleluasaan memilih sesuai dengan keinginan dan pilihan, lama masa studi Satuan Kredit Semester (SKS) para mahasiswa disesuaikan dengan kondisi mahasiswa yang bersangkutan dan dimaksimalkan proses belajar dilapangan selama 6 sampai 12 bulan selama satu tahun. Program "Kampus Merdeka" diberikan kepada mahasiswa guna memanfaatkan potensi diri sesuai dengan minat dibidang yang diharapkan dapat tumbuh dan berkembang. Masing-masing mahasiswa mempunyai hak belajar tiga semester diluar program studi sebagaimana yang tertuang didalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang standar nasional pendidikan tinggi.

Kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas paling utama dalam mendorong kemampuan mahasiswa agar menemukan bakat yang terpendam didalam diri sehingga memacu tumbuh dan berkembang dengan mempelajari hal-hal yang disenangi melalui disiplin ilmu yang digeluti. Hal ini bukan tanpa alasan yang jelas karena menurut hasil penelitian Indonesia Career Center Network tahun 2017 menunjukkan sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia mengakui jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Hal tersebut otomatis berpengaruh terhadap studi yang telah diambil karena tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan mahasiswa. Berdasarkan penelitian tersebut dapat dikategorikan bahwa kemampuan penyerapan sumber daya manusia tidak maksimal karena salah penjurusan dalam potensi yang ada pada diri individu sehingga profesi yang digeluti tidak maksimal dalam memproduksi hasil produksi yang telah dirancang dan dibuat.

Keterampilan yang dimiliki seharusnya dapat dimaksimalkan karena masing-masing individu memiliki kelebihan yang jika dikembangkan sesuai dengan minat dan bakat akan memberikan hasil yang luar biasa pada pencapaian maksimal. Untuk itu, perlu didorong program "Kampus Merdeka" agar minat para mahasiswa lebih potensial dalam menumbuh-kembangkan bakat diri menjadi berprestasi dan dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas taraf hidup manusia Indonesia. Namun, perlu diingat bahwa konektivitas jaringan antar perguruan tinggi dalam dan luar negeri kian mesti ditepuk lebih keras agar program-program yang telah dibuat bisa sinkron dengan kebutuhan dan pencapaian target yang diemban melalui penguatan lembaga prosedural yang memberikan hubungan yang tidak hanya sebentar tapi bisa dimanfaatkan setiap kali ada event-program yang akan dikerjakan secara serentak dan bersama pada tiap perguruan tinggi.

Konektivitas dan sinergitas dari pusat ke daerah dalam meng-implementasi program "Kampus Merdeka" harus benar-benar menjadi perhatian yang serius mengingat jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang tidak sedikit belum lagi ditambah jumlah

Perguruan tinggi swasta yang juga akan menerapkan kebijakan ini jika telah bisa diterapkan. Perlu sinergitas triple helix, yaitu pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan swasta dalam memaksimalkan potensi bibit unggul generasi masa depan Indonesia di tahun 2045 mendatang sehingga Indonesia dimata dunia Internasional lebih dipertimbangkan dalam mengambil setiap langkah dan kebijakan Internasional yang akan berdampak langsung terhadap aktifitas sosial, ekonomi, budaya dan politik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena, baru-baru ini menurut lembaga survey penelitian dari Amerika Serikat, saat ini Indonesia telah masuk sebagai negara maju tidak negaral berkembang lagi, artinya setiap investasi ekspor-impor yang masuk sewaktu-waktu dalam membanjiri pasar bursa di Indonesia karena beragamnya produk-produk asing yang masuk dan banyak para investor asing yang ingin berinvestasi sehingga berdampak pada persaingan yang ketat antar investor asing dalam merebut post-post penting yang ada yang diperkiraan akan bertumbuh cepat pada era kekinian.

Penyerapan tenaga kerja dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penopang tumbuhnya perekonomian Indonesia menjadi negara maju, selain faktor stabilitas politik yang tidak gaduh juga menjadi stimulus peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia. Dengan demikian, perguruan tinggi benar-benar akan menghasilkan lulusan yang berkompeten dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki sehingga peran dan fungsi dari lembaga perguruan tinggi betul-betul dapat dirasakan manfaat dan khasiatnya bagi masyarakat Indonesia yang kemudian akan mendorong warganya agar lebih memperhatikan kondisi sekitar sehingga nominal persentase pertumbuhan setiap tahun terus meningkat dan dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap masa depan generasi millenial Indonesia. Sebagaimana ungkapan penulis terkenal kebangsaan Amerika Serikat Richard Buckminster Fuller bahwa setiap orang terlahir sebagai jenius, tetapi proses hidup yang menjadikan mereka tanpa kejeniusan.

Komentar