BNPB Pastikan Dampingi Terus Daerah Terdampak Bencana Banjir Bandang

  • Cetak

PADANG PANJANG, binews.id -- BNPB pastikan dampingi terus daerah yang terdampak bencana banjir bandang lahar dingin Marapi sampai pulih. Daerah yang menjadi aliran sungai lahar dingin, ditetapkan sebagai daerah zona merah, tidak diperbolehkan ada bangunan lagi.

Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M saat memimpin Rapat Khusus Penanganan Bencana Sumatera Barat di Balai Sidang Istana Bung Hatta, Kota Bukittinggi, Kamis (16/5/2024).

Rapat ini diikuti Kepala BMKG Pusat, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc. Ph.D, Wakil Gubernur, Dr. Audy Joinaldy, Kementerian PUPR, Penjabat (Pj) Wali Kota Padang Panjang, Sonny Budaya Putra, A.P, M.Si, Bupati Tanah Datar dan Agam serta unsur terkait lainnya.

Baca Juga

Dikatakan Suharyanto, bagi warga yang bermukim di daerah yang rawan bencana akan segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Masyarakat yang dipindahkan tidak hanya mendapatkan rumah tapi juga sarana untuk perkebunan.

"Kami minta semua kepala daerah agar sesegera mungkin mendata rumah warga yang terdampak banjir ini. Sekurang-kurangnya ada tiga tahapan. Pertama, rusak ringan. Kedua, rusak sedang. Ketiga, rusak berat. Ini akan kita relokasikan dengan sebaik-baiknya," kata Suharyanto.

Selain itu, untuk jaringan irigasi akan diatasi Kemen PUPR. Sawah perorangan yang terkena dampak sesuai instruksi gubernur, akan dicari solusinya. Ini perlu dibicarakan lagi di tingkat provinsi karena memang tidak ada perbaikan sawah di tingkat pusat. Namun untuk gagal panen ada Jaslindo (asuransi-red) pada 2023, tapi 2024 tidak ada lagi lantaran anggarannya tidak ada.

"Untuk bersifat perorangan mungkin akan dibahas nanti di tingkat provinsi. Untuk yang tidak diwadahi PUPR itu biasanya diajukan, seperti jembatan putus diajukan BSP-nya. Atau diajukan hibah rehabilitasi rekonstruksi ke Deputi IV. Nanti dijelaskan bidang-bidang yang bisa masuk untuk yang tidak dapat tercover BNPB, dan ini Padang Panjang harus bergerak cepat," papar Suharyanto.

Namun di balik semua itu, tambahnya, utamakan dulu data masing-masing keluarga. Apakah masih memiliki tempat untuk membangun kembali tempat tinggalnya. Tapi harus dilihat kondisi lokasi tersebut, berbahaya atau memungkinkan.

Sedangkan untuk masyarakat yang sudah tidak memiliki tempat untuk kembali membangun rumah, akan disediakan lahan untuk mereka.

"Nanti akan ada tim teknis dari PUPR untuk mengawasi pembangunan tempat tinggal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Untuk jembatan, sudah diajukan nanti akan ditindaklanjuti," katanya lagi.

Suharyanto berharap untuk ke depannya saling berkoordinasi antara BMKG dan BNPB terutama terkait dengan cuaca ekstrem.

"Sabo dam apa perlu diajukan proposal lagi atau sudah masuk dalam program yang akan dilaksanakan oleh kementerian, akan dicoba diajukan lagi," ucapnya.

Sementara itu Wagub Audy menyampaikan, terkait pendataan rumah akan direalisasikan secepatnya. Masalah bantuan dari provinsi, akan diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan.

"Ada beberapa bantuan akan di-stok di Provinsi Sumbar karena takutnya bantuan ini menumpuk di daerah dan takutnya rusak. Kami salurkan secara bertahap sesuai permintaan dari kabupaten/kota yang terdampak. Yang jelas bantuan ini sudah tersedia di provinsi," jelasnya.

Khusus untuk jalur Lembah Anai, tambah Audy, dalam dua hari ini sesegera mungkin sudah bisa dilintasi kendaraan roda dua. Sementara untuk mobil, butuh waktu sebulan. .

Mendengar penjabaran itu, Pj Wako Sonny mengucapkan terima kasih kepada BNPB dan BMKG yang telah membantu penanggulangan bencana banjir lahar dingin di Padang Panjang.

Selain itu, Sonny juga menyampaikan kondisi di pengungsian sudah ditangani dengan baik. Hampir setiap saat pihaknya terus menerima bantuan dan telah diatur dengan baik.

"Kendala kami saat ini, setelah memonitoring, jumlah pengungsi ada sekitar 384 orang. Kendala yang dominan itu soal pakaian anak-anak dan orang dewasa. Kami sudah berupaya untuk menanggulanginya namun masih kurang," ungkapnya.

Kemudian, tambahnya, masalah air minum, karena ada beberapa saluran PDAM yang terputus. "Ada 1.900-an saluran ke masyarakat yang terputus," terangnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk rumah, kerusakannya masih didata lagi karena berbagai macam tingkat kerusakan yang ada. Namun ada yang rumahnya mengalami kerusakan berat sudah tidak dapat ditempati dan sekarang masih mengungsi.

"Kami ingin mencarikan rumah kontrakan, namun untuk jangka panjang perlu didiskusikan lagi. Jumlah relokasi sangat minim. Karena Padang Panjang sangat kecil, kebanyakan lahan yang ada itu milik bersama," jelasnya.

Kemudian permohonan untuk sabo dam, ini benar-benar perlu ditanggapi dengan baik. Karena memang lokasi Padang Panjang yang berada di tengah-tengah dan berada di atas Sesar Semangko yang cukup dikhawatirkan," tuturnya.

Untuk data sementara, imbuh Sonny, warga Padang Panjang yang meninggal akibat banjir bandang ini sampai saat ini sebanyak dua orang. (bi/rel)

Komentar

Berita Terbaru