COVID-19 Atau ROKOK?

38 hit
COVID-19 Atau ROKOK?

Oleh: Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas

Sepulang sholat shubuh, sepanjang jalan menuju rumah, saya diceramahi Pak ketua pengurus masjid karena tidak menggunakan masker selama sholat berlangsung. Dengan berbesar hati saya sampaikan terima kasih telah mengingatkan saya. Kemudian, setelah beberapa waktu saya berpikir, bahwa penyebab kematian terbanyak saat ini masih dipegang oleh mereka yang menghisab (rokok). Termasuk beliau yang menegur ini. kencang sekali jujutan beliau kalau sudah merokok dalam sehari. Saya menyaksikannya setiap hari. Walaupun tidak saya tanyakan berapa batang habis dalam sehari.

Data WHO menunjukkan, rokok masih menempati urutan pertama kematian terbanyak diseluruh dunia. 7 juta nyawa melayang setiap tahun akibat hisapan rokok. Termasuk mereka yang terpapar asap rokok. Namun, hingga 29 September 2020 kematian akibat Covid-19 dalam laman www.covid19.go.id sudah 10.601 orang. Ini tanda dampak tembakau lebih berbahaya daripada corona secara garis umum.

Rendah kesadaran, candu yang melekat, dan kebiasaan dari muda merupakan faktor terbesar susahnya melepas kebiasaan merokok. Kalau dampak Covid-19 bisa disembuhkan dengan isolasi. Sedangkan, dampak rokok tidak terlihat, hanya mengendap diparu-paru hitam pekat. Lama-lama memunculkan penyakit mematikan, serangan jantung, impotensi, stroke dan sederet penyakit berat lain.

Dulu, sejarah rokok dimulai di Amerika Selatan pada 4.000 tahun sebelum masehi. Ketika itu, merokok atau mengunyah tembakau merupakan bagian dari ritual perdukunan. Baru beberapa abad kemudian tembakau diperkenalkan di daratan Eropa. Setelah Cristopher Colombus menjadi orang Eropa pertama yang menemukan tumbuhan tembakau. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau itu berbagai tempat dengan menggunakan kapal laut (laman internasional kompas 2018).

Akibat perkembangan tatanan kehidupan yang berubah sehingga berubah tradisi rokok menjadi alat konsumsi dari masa ke masa, hingga sekarang. Bukan tanpa sebab, kebanyakan berubah cara pandang masyarakat eropa ketika itu, meniru satu orang yang dibuat gulungan yang diisi tembakau hingga diisap. Jadilah sebuah contoh yang ditiru semua orang yang melihatnya.

Sehingga, perbandingan rokok dengan virus corona ibarat bola sepak dengan bola kelerang yang jika terkena anak kecil akan terjatuh ke tanah. Bola sepak terkena wajah anak kecil seketika menangis anak tersebut. Namun, beda halnya dengan bola kelereng yang jika kena kepala anak kecil sakitnya sebentar saja tidak menyebabkan anak kecil tersungkur ke tanah. Ini salah satu contoh sederhana yang walaupun tidak bisa mewakili secara utuh.

Kebanyakan, jika diamati seksama, kematian akibat Covid-19 diperparah dengan penyakit bawaan. Sebelum pasien memiliki riwayat penyakit dalam dengan di touch Covid-19 otomatis memperburuk keadaan tubuh pasien. Sehingga, mengkoyak internal saraf pasien hingga melepas dan melunak.

Di Indonesia, melihat perkembangan dari hari ke hari, terus mengalami peningkatan jumlah terkonfirmasi positif. Menandakan, masyarakat sebagian besar masih abai dengan protokol kesehatan yang diwajibkan pemerintah. Sebenarnya dan mayoritas masyarakat telah paham bahwa menggunakan masker ke luar merupakan pertahanan awal pemutusan mata rantai Covid-19. Namun, dalam lapangan, masih saja masyarakat tidak perduli dan cuek saja dengan protokol kesehatan karena masih ada yang beranggapan bahwa Covid-19 konspirasi yang asing sana. Ini yang perlu diedukasi dan diberi pemahaman dengan lembut dan menyentuh relung mereka.

Kembali ke rokok, dalam tatanan sosial pergaulan masyarakat, rokok merupakan barang primer, barang konsumsi harian, konsumsi selepas makan, konsumsi dikala panik dan stress tiba menghujam. Bagi sebagian pihak (perokok), namun bagi yang tidak merokok, yang bergaul dengan si perokok maka akan kena angin hembusan, angin paparan perokok. Ini tidak elok bagi kesehatan si tidak perokok.

Itu satu kunci yang telah membudaya di Indonesia, dimanapun saya rasa bahkan hingga pelosok terpencil. Kecanduan yang tidak mau lepas banyak kerugian dan efek buruk bagi tubuh. Jantung hitam, kantong hitam, tengkorak gelap, suasana hati mood-mood an, suka panikan jika rokok telah habis dan beberapa dampak buruk lainnya. Jadi, yang ingin kami sampaikan dari segi kesehatan dan sosial. Rokok memang nikmat. Nikmat sesaat, setelah itu gigi berlubang, gigi nyut-nyutan dan kantong kiri-kanan bolong.

Sampai sekarang, saya masih mencari formulasi untuk argument yang bisa menyadarkan perokok bahaya dekat yang akan dialami. Diskusi terbuka, tidak menyinggung dulu bahaya rokok, bisa juga memberikan keuntungan tidak merokok, manfaat tidak merokok dan keuntungan jangka panjang dari tidak merokok. Kesimpulannya, rokok lebih parah dari Covid-19 walaupun kasat mata belum terdeteksi. Sekian.(*)

Komentar